Jumat, 22 Januari 2010
Ibu-Ibu Muda
Coba bayangkan saja, beberapa orang ibu muda di daerah tempat tinggalku, melakukan perselingkuhan, dan yang lebih parah lagi, ibu yang melakukanya, ada yang aktif di majlis ta'lim, bahkan ada yang lengkap dengan gelar hajjah nya...aduhhhh....bener-bener sebuah terobosan baru neh...
Aku pernah mencoba mencari tau, apa yang sebenarnya mereka inginkan di balik perselingkuhan itu, dan apa definisi selingkuh 'ala' mereka sebenarnya??
Rabu, 11 November 2009
Bibi Sayur itu....
karena cipratan tomat layu dan cabe busuk
Dengan harap daganganmu laris, kau tanyakan lagi pada ibu-ibu itu sayur apa saja yang
mereka beli....
Tapi senyummu terhapus di saat mereka bilang "Bi', dicatat dulu ya.."
namun dengan paksa, kau iyakan juga permintaan meraka.
Walau mereka setia menunggumu di tiap pagi,
namun tak jarang, banyak di antara mereka, yang mencaci sayuranmu
yang menurut mereka mahal ataupun layu..
Walau seharusnya, kau yang mengeluarkan cacian itu..
karena mereka sering menunggak membayar sayurmu, yang untungnya juga tak seberapa...
Bi'..sabar ya..
Aku tahu walau tubuhmu sudah tua dan ringkih, kau terpaksa melakukan hal ini,
Untuk biaya makan cucu-cucumu yang ditinggal ibunya sejak kecil.
Bi'..sabar ya...
Karna sayang Allah akan menaungi tubuh dan sepeda tuamu
Bi'..yang sabar ya..
Karena ada amal di tiap langkah dan putaran roda sepedamu
Selama hatimu Ikhlas...........
July 30th 2009
(Perjalanan ke sekolah Ade')
Nadia Kristanto
Minggu, 08 November 2009
Kenapa …dulu pacaran..?
Sampai dengan hari “H” itu akhirnya terlaksana, dan hari-hari pertama hidup berdua sebagai pasangan yang sah pun mulai dijalani.Mungkin pada awalnya semua akan berlangsung sangat indah dan mengesankan, seperti masak berdua, liburan berdua, sarapan berdua sampai dengan tidur berdua tentunya .
Dan sangat jelas, diantara kesenangan-kesenangan tersebut, pastinya terselip note mengenai kejadian atau peristiwa kecil yang terekam di kepala, namun tak jarang sebagian orang menulisnya di dalam bentuk diary.Di dalam note-note kecil itu, tersimpan hal-hal yang menyenangkan, mengesankan, sampai dengan hal yang membuat kita juga sampai ill feel sama si dia.
Sampai akhirnya perjalanan hidup berdua itu, tak berdua lagi, mungkin saja bertiga, berempat (dengan sang anak tentunya) dan seterusnya, dan tak terasa, tahun pertama terlewati, tahun kedua, ketiga, bahkan sudah masuk pada tahun yang ke sepuluh.
Perjalanan ini mungkin bagi sebagian orang “tak terasa” katanya, namun tak sedikit yang menelan ludah, mengikhlaskan garis hidupnya yang awalnya dirasakannya sebagai “true love” nya, ternyata tak seindah bayangannya .
Disinilah terkadang mulai dibukanya lagi cerita-cerita lama kita dengan “pacar-pacar” kita yang dulu yang pernah menjalin hubungan khusus juga dengan kita. Sebelum akhirnya kita memutuskan untuk menikah dengan si dia.
Mungkin…ini mungkin lho.. akan terselip kalimat penyesalan yang mengatakan, “andai dulu aku sama si A, pastinya hidupku tidak akan merana seperti ini”, “andai dulu aku sama si B, tentunya aku adalah wanita/pria yang paling bahagia yang pernah ada”.Andaikan dulu aku sama si C, pastinya aku dan dia saling pengertian, dan masih..banyak lagi kalimat-kalimat penyesalan lainnya, yang tercatat atau bahkan sampai terlontar dan pada akhirnya membuat pasangan kita menjadi sakit dan sedih hatinya.
Ketika aku berbincang panjang mengenai hal ini pada salah seorang sahabatku, aku berkata padanya, seandainya pernikahan itu “mudah”, ayo kita coba mengarungi hidup bersama dengan si A, untuk 6 bulan saja, begitupun dengan si B, dan juga si C, pastinya…..kita tetap akan menemukan kekurangan-kekurangan dan juga kelebihan-kelebihan yang berbeda-beda dari setiap mereka, dan pada akhirnya kita akan berkata….No Body is perfect, begitupun dengan diri kita sendiri, kita juga bukan sosok yang sempurna untuk nya, nya dan nya….kan??
Sahabatku tertawa dan berkata , “bener juga ya…” serasa kita terlalu egois disaat kita selalu menuntut pasangan kita untuk sempurna, sementara kita…..juga kadang lengah dari terus memperbaiki diri, cuman terkadang memang berat, untuk merubah diri sesuai dengan permintaan pasangan kita, tanpa ada support melalui perubahan diri yang dia tunjukkan juga kepada kita..
Bakalan panjang nih diskusinya kalo sudah begini…hehehe, akhirnya kami pun pulang kerumah masing-masing, dan ketika waktunya tidur, pembicaraan tadi kutuliskan dalam sebuah catatan kecil di dalam diaryku.
Berharap seandainya yang dulu boleh terulang, mungkin aku akan meminta satu hal lagi sama yang diatas, “Tuhan….., tolong tahan perasaan cinta ini, untuk seseorang yang nantinya benar-benar akan menghabiskan sisa hidupnya bersamaku".
Gak ada maksud lain sebenarnya, hanya ingin mengambil sisi positif dari permintaan ini, yakni rasa khawatir yang terlintas, ketika suatu saat nanti aku membuat perbandingan dirinya dan dirinya, disaat aku sudah menjalani hidup dengannya……………..
Well, akan ada yang protes dengan doaku mungkin…karena ada sebagian orang yang berpendapat, "ingin mencari yang baik, sebelum akhirnya mendapatkan yang terbaik"…..and I’m OK with that…kita semua punya pendapat yang berbeda-beda tentunya.
Sampai akhirnya aku menemukan sebuah kalimat bijak yang berkata……”Kita ada di dunia ini, untuk mencintai pasangan kita yang tak sempurna, dengan cara kita yang sempurna…..”(I Really Love this words). Akhirnya kalimat bijak ini juga meng “end up” kan tulisanku untuk hari ini ….semoga bermanfaat ya…..
Tulisan ini aku khususkan untuk para sahabatku, yang akan menikah, sudah menikah tapi akhirnya pisah, dan juga untuk para sahabat yang sudah memasuki tahun ke 8, 9, 10, dan seterusnya….Happy Everyday Anniversary for you all………
Nadia Mulkin
“Rumah kenangan”
Nov 5th, 2009
Kamis, 05 November 2009
Ijabah Doaku…..
Rasa haru beribadah di bulan maghfirahmu ini, terasa begitu berbeda,..
Doa pun mengalir ….namun terijabahkah olehMu?….
Rabbi…..
Angkat derajat ini di mataMU tanpa perlu pengakuan derajat dari makhluk lain
Angkat gunaku, agar manfaat diriku bagi makhlukMU yang lain..
Jadikan aku seorang anak, yang karena kepatuhanku,
bisa kurasakan kasihMU, melalui Ibu dan Ayahku
Jadikan aku seorang Ibu yang pengasih,
tanpa perlu kuharap balas kasih dari anak-anakku
Jadikan aku seorang Istri shalehah yang istiqamah,
tanpa perlu balasan Shaleh dari pasanganku…
Jadikan aku hambaMU yang selalu merasa harus dan terus memperbaiki diri dan ibadahnya
Sampai jelang waktunya, KAU ambil aku, untuk KAU letakkan, di rumah abadiMU yang damai……
Ijabah doa ini Ya Rabb……
Early Morning, August, 28, 2009
“Rumah Kenangan”
Syukur yang Tersembunyi…..
July akhir ini, beberapa teman yang bekerja di satu perusahaan dengan suamiku, mendapat “surat” dari management, yang isinya menyatakan bahwa perusahaan besar ini mengadakan Pemutusan Hubungan kerja dengan mereka.
Aku yang mengetahui hal ini dari suamiku, hanya bisa mengucap Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun saja.Sedikit tak percaya, bahwa perusahaan tempat ayah kami bekerja dulu, dan sekarang jadi tempat suamiku bekerja, akhirnya terkena dampak krisis juga, setelah 3 bulan terakhir ini, karyawan diresahkan dengan kesimpang siuran berita yang ada…
Termenung, terpaku, sambil melamun, membayangkan langkah-langkah selanjutnya, yang akan diambil oleh para kerabat kami yang mendapat ‘surat” tersebut.Namun yang paling aku pikirkan adalah perasaan yang mereka rasakan saat ini, mungkin saja ada yang kuat dan meyakini ini bukan akhir dari segalanya, atau mungkin ada yang sudah mewaspadai hal ini, dengan melamar di beberapa tempat, atau bahkan meneruskan bisnis keluarga mereka, atau bahkan ada yang berteriak sambil menangis, dan tidak siap menerima kenyataan yang terjadi…dan bahkan malu bertemu dengan sahabat dan kerabat karena hal ini……Apapun itu, doaku hanyalah, agar mereka atau mungkin juga kami yang akan terkena dampak ini, Engkau beri keikhlasan……..
Masih dalam keadaan terduduk, aku mencoba menyalakan TV, mencari sesuatu yang bisa mengalihkan kesedihanku saat ini.Tapi yang kudapatkan justru perenungan yang lebih mendalam, entah mengapa, tangan ini memencet salah satu siaran dari TV swasta, yang tengah menceritakan kisah seorang buta, yang hidup sebatang kara, dan bertahan hidup dengan bekerja sebagai pengupas kulit kelapa tua, yang kemudian dijadikan sapu, untuk dijual di pasar.
Dengan matanya yang buta, dia tidak membutuhkan tongkat untuk meraba jalan, tak memakai alas kaki, untuk kakinya yang sudah tua….baju lusuh dan apa adanya….Ya Allah…benar-benar jauh dari kehidupan layak bahkan sederhana sekalipun.
Kembali aku tertampar dengan tayangan ini…begitu banyak mengeluh dan merasa diri termasuk orang yang belum beruntung dengan segala keluhan mengenai ‘ketidakpunyaan’ akan sesuatu…
Ya Ilahi..betapa rapuhnya kami, dengan ujian kecil yang kau berikan kepada kami, saat ini saja, kami sudah mengeluarkan keluhan yang bertubi-tubi…entah itu mengenai masalah kecil, atau dengan masalah yang lebih kompleks lagi, tanpa jarang kami sadari,..masih banyaaakk makhlukmu yang lain, yang jauuhhhhh lebih menderita daripada kami, dan mereka ikhlas mengarungi bahtera kehidupannya dengan apa adanya dan penuh syukur untuk makanan yang bisa mereka dapatkan untuk hari ini….
Ampuni kami Ya Allah…Jauhkan kami dari segala keburukan hati dan kejahatan sikap…
Jadikan kami Makhluk yang senantiasa bersyukur atas segala sesuatu dariMu, karena baik bagi kami, belum tentu Indah bagiMu…sabarkan dan Ikhlaskan hati ini Ya Rabb….
Sungguh Engkau maha Penggenggam Alam semesta beserta isinya………
Nadia.Kristanto
End of July 2009….
“Rumah Kenangan”
